Taman Rooftop Manfaatnya Untuk Balancing Udara Bukan Atasi Banjir

oleh -144 views

MEDAN-Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Medan nomor urut 1, Akhyar Nasution-Salman Alfarisi menyampaikan rencana mereka untuk mempercantik dan mengatasi masalah banjir di Medan, pada debat publik kedua di Medan, Sabtu (21/11/2020).

Menjawab pertanyaan panelis soal visi misi mereka yang akan membuat Medan cantik, Akhyar-Salman menyebut akan menyediakan ruang terbuka hijau dengan membangun taman baik di tanah maupun di atap gedung-gedung di Medan. Mereka mengunakan istilah “taman di langit” untuk menyebut taman di atap atau rooftop tersebut.

Menurut Akhyar, taman rooftop tersebut, selain untuk mempercantik kota, juga sebagai solusi untuk mengatasi masalah banjir di Medan.

Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh pasangan Bobby Nasution-Aulia Rachman pada sesi debat tersebut. Menurut Bobby, jika taman rooftop tersebut dijadikan solusi untuk mengatasi banjir, justru bukan solusi yang tepat.

“Bagaimana bisa taman di atas gedung bisa mengatasi banjir,” tanya Bobby.

Akhyar lantas menjawab, bahwa taman-taman tersebut, dengan media tanah yang ada di atas atap, akan memperlambat air jatuh langsung ke parit-parit yang ada di bawahnya. “Saat hujan turun, tanah di atas akan menyerap dan membuat air mengantre, tidak langsung turun ke parit,” kata Akhyar.

Bagi Bobby, solusi seperti itu untuk mengatasi banjir justru salah kaprah dan tak efektif. Menurut dia, taman-taman di atas gedung akan sangat baik sebagai solusi mengatasi polusi, dan banyak kota-kota besar di dunia sudah menerapkan langkah tersebut.

Menurut Bobby, dalam mengatasi masalah banjir di Medan, taman rooftop bukan jawaban. Permasalahan utama di Medan adalah drainase yang buruk, masalah sampah juga jadi salah satu pemicu. Masalah ini justru yang selama ini belum mampu terselesaikan oleh Pemko Medan.

“Menurut kami, parit-paritnya dulu yang diperbaiki. Dibenahi. Selama ini ada anggarannya. Tetapi implementasinya tidak jelas. Hasilnya Medan tetap banjir,” kata Bobby.

Bobby juga mencetuskan idenya menjadikan pemukiman di sekitar daerah aliran sungai lebih tertata dan bisa dijadikan solusi untuk mengatasi banjir, menanggulangi masalah permukiman kumuh serta menjadikannya objek wisata.

Idenya adalah mengajak masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai, untuk menjadikan sungai sebagai halaman depan rumah mereka. Banyak kota-kota di Eropa dan Amerika sukses menerapkan pola tersebut. Hal ini dinilai sangat efektif untuk merubah pola hidup masyarakat pinggiran sungai yang kerap membuang sampah ke sungai.

Tentu, dengan menjadikan sungai sebagai halaman depan rumah mereka, secara langsung masyarakat akan menjaga dan merawat sungai menjadi lebih baik. Mereka akan ikut mempercantik sungai. Dampaknya bisa dirasakan, sampah tidak akan dibuang ke sungai.

Sungai akan menjadi bersih. Sedimentasi atau pendangkalan sungai bisa ditekan, dan secara tidak langsung akan efektif mencegah banjir. Sungai-sungai yang bersih juga tentu akan menjadi objek wisata yang menarik dan turut mendongkrak ekonomi masyarakat.

Secara terpisah Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli, Luhut Sihombing Senin (23/11/2020) mengatakan, rooftop garden atau flying garden adalah salah satu bentuk pemanfaatan ruang dalam bangunan. Disana ada media tanah dengan budidaya tanaman hortikulktura, sayuran, buah dan tanaman hias serta pohon bonsai.

Strategi mitigasi rooftop garden terlalu jauh dengan apa yang kita hadapi. Ibarat pepatah “jauh panggang dari api”. Konsep itu lebih banyak manfaatnya untuk penyeimbangan oksigen dan karbondioksida, keindahan serta mengurangi panas terhadap lantai atas.

Dia menjelaskan, media tanah dan tanaman dalam roof top memiliki retensi air secukupnya, yaitu untuk kebutuhan tanaman, karena tanaman untuk bertahan hidup juga perlu sistem pengairan yang bagus. Tidak mungkin media tanaman itu menggunakan tanah liat. Pasti humus yang daya simpan airnya sangat terbatas. Maka agak lucu jika dikatakan bahwa air akan mengantre, karena air bukan mahluk hidup yang bisa antre secara teratur.

“Manusia saja terkadang susah diminta mengantre. Apalagi air. Air akan mencari jalan. Kalau jalannya benar, ya ke saluran drainase. Kita khawatir airnya akan cari jalan yang tak benar,” ungkapnya.

Konsep flying garden juga butuh spesifikasi teknis dan biaya operasional yang besar serta dampak juga terhadap rumah. Biaya lumayan mahal karena lantai roof top harus dilakukan water proofing yang baik dengan membran sheet. Konsep ini pernah dilakukan di perpustakaan Universitas Indonesia di Jakarta, tetapi dua tahun lalu sudah pada dibongkar karena membuat roof top bocor.

Parahnya kalau sudah bocor, sangat sulit mencari titik kebocorannya, belum lagi sisa sedimen tanah yang dalam jangka panjang akan menumpuk kembali kedalam drainase rumah.

Selanjutnya, berbicara tentang banjir, maka kita berbicara tentang curah hujan ekstrim diatas 60 mm, hujan deras dan relatif lama dalam suatu tempat. Bukan curah hujan 10 mm dalam bentuk hujan gerimis. Lagi pula hujan turun dimana saja, bukan memilih turun di atas roof top.

“Kemudian berapa sih luasan roof top yang available dan willingness masyarakat untuk itu? Menurut saya kalau untuk mengatasi banjir dengan pemanfaatkan roof top atau atap rumah lebih baik dengan konsep water harvesting. Ini jauh lebih bermanfaat dan berguna,” tegasnya.

Menurut dia, dalam upaya mengatasi banjir mikro di Medan, pemerintah perlu memperbaiki drainase. Sementara untuk banjir makro, maka Pemko Medan perlu bekerja sama dengan pemda di daerah hulu sungai seperti Kabupaten Tanah Karo dan Deliserdang sehingga cathment area Sungai Deli dan Babura di hulu lestari yang nantinya dapat mengalirkan air secara normal melewati Kota Medan.

Dalam menjaga debit air di hulu tetap normal, tentu kelestarian hutan di sana perlu dijaga. “Nah, di sini, pemimpin Kota Medan ke depan tentu harus bisa bekerjasama dengan Pemda di sana untuk mempertahankan kelestarian hutan,” jelasnya.

Budaya organisasi dalam mengatasi banjir di Medan sangat diperlukan. Menurut Luhut, di sinilah muncul yang namanya kerjasama. Pemimpin Kota Medan ke depan, harus mau dan bisa bekerjasama dengan pihak manapun, baik antar pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan stakeholders lain termasuk akademisi yang selama ini melakukan riset dari hulu hingga hilir sungai, termasuk lingkungan hutan dan sebagainya.

“Jadi sekali lagi roof top garden itu manfaatnya lebih kepada balancing udara, bukan mengatasi banjir,” pungkasnya. (*)