Masyarakat Desa Batahan I Sambut Asisten III dengan Nada Lembut Bermakna ‘Tokoh dan Perangkat Desa Mengundurkan Diri’

oleh -244 views
Sekdes dan Tokoh adat menyampaikan aspirasinya kepada Asisten III Kab Madina Drs Syahnan Batubara, MM di Sekretariat Desa Batahan I (16/10/2020)

MADINA| Masyarakat Desa Batahan I yang menyambut Asisten III Pemkab Madina Drs Syahnan Batubara dan Camat Batahan Irsal Pariadi, SS TP Jumat (16/10/2020) lalu oleh sejumlah tokoh masyarakat , alim ‘ulama, perwakilan perempuan, serta jajaran pemerintah desa untuk makan bersama dan sebelum makan bersama secara bergantian masyarakat atas nama perwakilan ibu-ibu, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan perangkat desa dengan nada lembut bermakna, ‘tokoh dan perangkat desa mengundurkan diri’.

Penyampaian awal disampaikan oleh mewakili ibu-ibu wirit yasin yaitu Ramlah (29) katanya dengan bahasa Mandaling ” Dengan hormat Hami sampeon tu bapak asisten dengan rendah hati anso perbuatan penganiayaan dan pengancaman oleh famili Nami Saparuddin tu kades nami anso diselesaion dengan ketentuan hukum yang berlaku, harana sangat berefek tu nasib para pejabat desa son nari dan nakan ro baik secara politik , ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Jika inda di saloseon.

Dengan hormat kami sampaikan kepada bapak Asisten dan dengan rendah hati agar perbuatan penganiayaan dan pengancaman oleh saudara kami Saparuddin ke kepala desa kami agar diselesaikan sesuai hukum yang berlaku , karena sangat berefek buruk kepada nasib perangkat desa sekarang dan yang akan datang , dengan ketentuan hukum yang berlaku kami pengurus wirit yasin yang setia mendukung visi dan misi Bupati yang dijalankan kades kami, kami akan mengundurkan diri dan akan berpaling dari janji politik kami yang sudah simpatik kepada salah satu calon Bupati dan wakil bupati yang akan berkompetisi tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Penyampaian yang bersamaan disampaikan Sekdes H Ramadhan Adam Malik Siregar, tokoh Adat Pesisir Melayu Ibnu Hasan Tanjung serta Alim ‘ulama Sutrisno yakni,” Kami sudah menjumpai dengan orang yang kami anggap bisa melihat persoalan yang menurut kami sudah dipolitisir, kami juga atas nama perangkat desa akan mengundurkan diri dari jabatan kami kalau perbuatan Saparuddin dan anaknya Maulana yang menganiaya dan mengancam membunuh serta mengembangkan informasi membalikkan fakta kepada semua pihak terhadap inpormasi yang sebenarnya yang terjadi kepada kepala desa kami.

Jika tidak diselesaikan dengan ketentuan hukum yang berlaku kami menganggap Saparudin sudah sangat mengabaikan perbuatannya yang sangat tidak terpuji itu. Sebulan waktu diarahkan untuk melakukan acara adat dan kekeluargaan namun Saparuddin bukan berniat menyelesaikan tapi malah memperbesar masalah dengan mengabarkan kesemua penjuru dengan inpormasi bohong tujuan mendapatkan simpati, sedangkan dia pelakunya.

Korban saja belum pernah berpikir seperti yang dilakukan pelaku Saparudin.Korban aja ( Kepala Desa kami Afnan Lubis ) sama umak dan keluarga kandungnya saja belum ia cerita kan, dengan tujuan agar tidak melebar dan tidak dipolitisir.

Kami tegaskan sama pak asisten jika itu tidak diselesaikan sesuai ketentuan hukum karena memang sudah berjalan dan karna kita hidup di Negara hukum kami akan mengundurkan diri biar aja Saparuddin jadi pengganti kami. Kami mohon dengan segala hormat pak asisten. Kami tidak mau salah satu calon yang kami dukung kecewa. Sebagai pribahasa mengatakan ‘GAra-gara Setets Racun Sayang Madu Sebelanga’,” papar Ramadhan.

Diceritakan Ramadhan untuk diketahui kronologisnya, Kepala desa kami di Masjid Nurul Falah Dusun II Desa Batahan I menjelang Salat Magrib menyapu masjid dan mengajak dua masyarakat untuk membetulkan lampu masjid yang padam yakni, Ipul dan Fahri sementara Sutrisno dan Alfian memperbaiki air di kamar mandi masjid.

Tiba-tiba datang Saparuddin mengomel gaya preman dia ladeni berkomunikasi didepan masjid sekita itu dia pun meninggalkan kades kami dan didepan masjid sebelum dia naik ke sepeda motornya, dia cari kayu dan langsung ngebut pergi .

Lebih kurang lima menit Saparuddin datang lagi ke halaman masjid dengan membentak ngomel ke kades kami , kades kami mendatanginya ke pintu masjid dan membawanya untuk duduk. (masuk ma Abang. jolo, juguk jolo Anggo adong masalah bisa dei Ita saloseon).Masuk dan duduklah abang dulu, kalau ada masalah bisa nya itu kita selesaikan, sekalian berjalan bersama ke dalam masjid.

Ketika akan duduk langsung Saparuddin meninju muka kades kami dan ia terus menjemput parang lebih kurang sepuluh menit Saparuddin datang mengacungkan parang. Beruntung di pegang dan dihalangi menantunya Sein Heri Muda.

Kepala desa kami tidak melawan dan tidak ada kasar tapi saparuddi dan anaknya bernafsu kali mau membunuh kepala desa kami di Masjid lagi. Itulah cerita singkat nya dengan saksi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) sebanyak empat orang yakni, 1 Sutrisno, 2 Alpian Siregar, 3Ipul, 4 Alfian Siregar. “Secara politik kita dan kepala desa korban politik,” ucap Ramadhan.cr-03

No More Posts Available.

No more pages to load.