Dari Warung Pecal, Simbok Bisa Naik Haji

oleh -217 views
Simbok duduk diwarungnya mengawasi anak perempuannya yang membantu berjualan. (Foto/Karyadi Bakat).

Suka Duka

Setiap hari Simbok membuka warung berjualan makanan seperti lontong, nasi sayur, pecal maupun gorengan mulai pagi sekira pukul 06.30 WIB. Dahulu dia mengangkut bahan makanan yang dijualnya ke warung tidak jauh dari rumahnya dibantu suaminya dengan menggunakan beca bermotor (Betor).

Namun setelah suaminya meninggal sejak duapuluh tahun silam dia terpaksa berjualan sendiri, pagi sebelum anak-anak berangkat ke sekolah ikut membantu dan pada sore hari bantu bantu berkemas menutup warung selepas pulang sekolah, ujar Simbok berkisah.

Dia mulai berjualan di tempatnya hingga sekarang statusnya menyewa sejak 1992, ketika itu Jalan Setia Luhur belum diaspal, masih jalan tanah bebatuan dan kecil. Suka dan duka mereka lalui dengan syukur karena itu lah nikmat yang sesungguhnya.

“Baru sekitar 1997 jalan ini dibangun dan diaspal sehingga nampak lebar dan rapi,” kata Simbok.

Kini sang nenek dari beberapa cucu itu sudah berumur 70 tahun, tetapi semangatnya tak pernah padam. Dia tetap berjalan seperti dulu, hanya saja dibantu anak perempuannya.

Sedangkan Simbok cuma memberi komando sambil duduk di warung yang telah banyak memberinya inspirasi untuk selalu bersyukur atas rezeki yang diberi sang maha pencipta Alam Allah SWT. (Karyadi Bakat SE)