‘Cuci Otak’ dr Terawan Butuh Uji Klinis

oleh -291 views
Ilustrasi otak manusia/Ist

Ramainya kontroversi tentang metode pengobatan cuci otak yang diterapkan oleh Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad dan juga kasus sanksi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), direspons oleh Prof Irawan Yusuf dari Universitas Hasanuddin Makassar. Prof Irawan merupakan promotor dr Terawan dalam risetnya tentang heparin dan Digital Substraction Angiography (DSA).

Prof Irawan Yusuf dalam keterangan persnya bersama wartawan mengatakan, dari sudut ilmiah metode penelitian yang digunakan dr Terawan sudah sesuai standar sebagai mahasiswa S3 program doktor di Unhas.

Namun perlu dicatat metode yang digunakan dr Terawan harus ada uji klinik terlebih dahulu, meski beberapa pasien mengangap program dan metode yang digunakan dalam mengobati pasien berhasil.

“Sudut ilmiah sebenarnya metode penelitian sudah standar sebagai mahasiswa S3. Namun perlu dicatat kalau mau memperkenalkan harus ada uji klinik terlebih dahulu, uji klinik dengan mengacak pasien dokter Terawan dan dokter biasa dan kita akan liat hasilnya,” kata Prof Irawan Yusuf, di Gedung Rektorat Unhas, Jalan Printis Kemerdekaan Makassar, Jumat (6/4/2018), seperti dilansir detik.com.

Lebih lanjut, menurut Prof Irawan dalam dunia kedokteran, hampir semua terobosan dimulai dengan kontroversi dan kontroversi ini harus diselesaikan dengan riset yang membutuhkan waktu cukup panjang.

“Dalam dunia kedokteran hampir semua terobosan semua dimulai dengan kontroversi dan ini harus diselesaikan dengan riset dan panjang prosesnya. Namun masalahnya panjang. Saya secara akademik tidak ada urusan dengan praktik, itu urusan profesi dokter,” terangnya.

Kasus dr Terawan dengan metode cuci otak sendiri harusnya tak menjadi kontroversi dan permasalahan saat ini, jika dr Terawan dan IDI ada komunikasi yang baik sebelumnya.

“Harusnya tak menjadi kontroversi dengan metode yang digunakan dr Terawan, kalau ada komunikasi dr Terawan dengan teman teman IDI pasti tak ada masalah,” tutupnya.