Cerita Agus si Pemantau Jalur Lahar Dingin Sinabung Terjadi Setiap April Minggu ke 3

oleh -375 views
Agus Surbakti sipemantau lahar dingin Sinabung saat berada diantara puing-puing lahar dingin dialur sungai Lau Bakerah. (foto/Istimewa)

TANAH KARO – Percaya atau tidak, bencana alam lahar dingin Sinabung ini, memiliki historis dan cerita unik selama dirinya ditugaskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo memantau aliran sungai Bakerah sebagai jalur lahar dingin. Seingatnya kejadian lahar dingin itu sudah terjadi sebanyak 4 (empat) kali bertutur-turut.

Mulai dari kejadian awal !8 April 2017 hingga kejadian ke empat, bencana alam lahar dingin itu selalu datang dan terjadi setiap bulan April, pada minggu ke tiga atau jelang akhir bulan.
Aneh tapi fakta, bila dicermati dan diurut kejadian-nya, pertama kali lahar dingin terjadi pada tanggal 18 April 2017, kemudian kejadian kedua terjadi pada tanggal 19 April 2018, lalu ketiga tanggal 21 April 2019 dan terakhir 23 April 2020 sekira pukul 15.00 WIB dengan durasi 2, 5 jam lamanya,” tutur Agus Surbakti kepada Bupati Karo Terkelin Brahmana dan rombongan saat meninjau jalur lahar dingin di sungai Bakerah mulai dari hulu hingga hilir, Jumat (24/4/2020).

Fenomena alam ini sulit memang diterima akal sehat secara logika, karena kegiatan alam siapapun tidak bisa menafsirkan, untuk itu baik kita jadikan referensi kedepan agar setiap bulan Maret, Pemkab Karo dan perangkat camat bergandengan tangan supaya melakukan normalisasi setiap tahunnya, demi antisipasi kejadian terburuk yang sudah ke empat kali ini terjadi,” ujar Agus Surbakti sdi ilokasi hulu sungai bakerah.

Karena ada pirasat, akan datang lahar dingin karena curah hujan sangat tinggi, sebelum terjadinya peristiwa itu (lahar dingin) saya selaku juru pemantau sungai yang ditugaskan BPBD Kabupaten Karo, langsung menghimbau dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa ada tanda tanda lahar dingin akan bergejolak dari gunung sinabung.

“Untuk itu saya meminta dan mengajak masyarakat agar berhati-hati dan waspada supaya menjauhi jalur dari Sabodam, sebab penerawangan bakal terjadi lahar dingin,” ucap Agus si pemantau sungai.

Dari peristiwa bencaa alam itu, 55 hektare lahan pertanian warga rusak, dan dapat dipastikan gagal panen kerugian ditaksir ratusan juta rupaiah dari berbagai jenis tanaman.

Sabodam yang dibangun ahli dari Jepang beberapa waklu lalu, hampir tidak berfungsi, karena arus lahar dingin dengan sarana Sabodam tidak sesuai, selalu lebih besar arus lahar dingin yang mengalir dari puncak Sinabung bersama bongkahan kayu besar, matrial bebatuan, kerikil dan pasir. “Sehingga lahar dingin meluber dan melebar menerjang merusak lahan pertanian warga,” pungkasnya.

Reporter : Daniel Manik