Bobby jadi Harapan Birokrasi yang Bersih di Medan

oleh -156 views

MEDAN – Birokrasi yang buruk masih menjadi masalah utama dalam upaya menciptakan layanan publik bersih di Kota Medan. Sosok Bobby Nasution, sebagai calon Walikota Medan menjadi harapan agar tercipta birokrasi bersih yang mengedepankan layanan prima kepada masyarakat.

Akademisi Administrasi Publik Universitas Medan Area, Beltahmamero Simamora mengatakan, selama ini layanan publik di Kota Medan masih berbau korup. Sebagai bukti, banyak pejabat di jajaran Pemko Medan, termasuk walikota tersandung kasus korupsi. “Jadi, kalau pemimpinnya masih bermain, tentu bawahannya juga akan bermain,” katanya di Medan, Kamis (5/11/2020).

Menurut dia, kualitas layanan publik di Medan masih kalah jauh jika dibanding kota-kota yang ada di Pulau Jawa. Di sana, layanan publik dijalankan benar-benar untuk kepentingan masyarakat. Semua dilayani dengan baik dan adil. Sementara di Medan, masih banyak warga yang mengeluh kesulitan mengurus administrasi kependudukan.

Layanan publik di Medan cenderung diprioritaskan untuk warga yang berduit, atau mereka yang rela membayar dengan biaya tertentu agar kepengurusan administrasi berjalan cepat. Begitu juga dengan warga yang memiliki relasi dekat dengan pejabat, tentu akan mendapat layanan publik lebih cepat.

Tentu praktik birokrasi seperti ini melenceng jauh dari tanggung jawab moral pemerintah, dalam upaya melayalani masyarakat tanpa pandang bulu. Padahal, seharusnya setiap warga negara berhak mendapat layanan publik dengan standar yang sama, baik dari segi waktu maupun kualitas.

“Birokasi yang terkesan korup itu tentu berpengaruh negatif terhadap kinerja layanan publik oleh Pemko Medan. Hal-hal seperti ini yang harus dibersihkan,” katanya.

Dia mendukung penuh upaya Bobby Nasution dalam membersihkan birokrasi di Medan. Menurut dia, transformasi birokrasi sudah sangat mendesak di Medan. Sebab, praktik-praktik pungli dan ‘diskriminasi’ dalam proses layanan publik di Medan masih terus terjadi.

“Dan ini memang butuh pemimpin yang memang memiliki komitmen kuat untuk melakukan bersih-bersih di birokasi,” katanya.

Dia mengatakan, transformasi birokrasi yang tawarkan Bobby dalam beberapa kesempatan kampanyenya, memang sangat baik untuk penyelesaian masalah di Medan. Bersih-bersih harus dilakukan dari organisasi yang paling tinggi hingga paling rendah.

Apalagi, dengan sosok muda seperti Bobby, layanan publik bisa lebih fleksibel dengan memanfaatkan electronic government (E-Government). Medan sebenarnya telah menerapkan sistem ini, tetapi implementasinya masih rendah. Tingkat partisipatif masyarakat juga rendah. Ironisnya, sistem yang diterapkan di Medan, masih kalah dibanding daerah tetangga, Kota Binjai.

Dengan jiwa muda yang dimiliki Bobby, tentu dia akan lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan platform digital sebagai pendukung layanan publik di Medan. Segala keluhan masyarakat bisa disampaikan lewat kanal khusus berbasis digital yang disiapkan Pemko Medan.

Begitu juga dengan pengurusan administrasi kependudukan, pengurusan izin-izin juga bisa dilakukan lewat aplikasi yang disediakan. Laporan anggaran yang transparan melalui website atau kanal digital tertentu juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Pemko Medan. “Dengan adanya E-Government, praktik birokrasi yang buruk, terkesan korup dan lamban selama ini bisa ditekan,” ungkapnya.

Dia kembali mengingatkan, dengan layanan publik dan birokrasi yang buruk selama ini, sudah saatnya Kota Medan memiliki pemimpin baru yang bisa membawa perubahaan ke arah lebih baik, terutama birokrasi yang bersih. “Saya pikir, Bobby punya komitmen kuat untuk hal itu,” pungkasnya. (*)