100 Hari Kepemimpinan Walikota Medan, Sampah Masih Menumpuk

oleh -54 views
Truck Sampah yang sudah 'uzur' membawa sampah (foto/ist)

Pertama, ketiadaan tempat penampungan sampah di tengah pemukiman masyarakat. Minimnya tempat penampungan sampah di kota mau tidak mau menjadi faktor yang menyebabkan masyarakat membuang sampah di bahu jalan. Beberap kecamatan seperti medan tembung, medan barat dan medan timur hanya tersedia 3 sampai 6 bak sampah, yang sudah dapat dipastikan tidak dapat mengakomodir sampah yang dihasilkan oleh masyarakat di wilayah tersebut. Hal ini juga menjadi penyebab sampah akhirnya di buang di parit dan sungai di wilayah tersebut.

Tumpukan sampah di sejumlah titik wilayah di Kota Medan (foto/ ist)

Kedua, mahalnya biaya pengangkutan sampah oleh becak pengangkut sampah menyebabkan masyarakat enggan untuk membuang sampah kepada petugas pengumpul sampah. Lain dari itu pengumpulan sampah dari rumah ke rumah juga tidak dilakukan setiap hari sementara sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat harus dibuang segera karena cepat mengelurkan bau busuk.

Ditemui terdapat perbedaan besaran iuran yang diminta oleh petugas pengangkut sampah Seperti halnya pengutipan yang terjadi di wilayah Medan Johor dimana perbulannya masyarakat ada yang diminta harus membayar sebesar Rp 30,000. Sementara Medan Timur sebesar 20.000 dan di Medan Helvetia sebesar Rp 25.000. Tidak adanya jumlah pasti iuran dapat berpotensi menjadi celah yang merugikan PAD (pendapatan asli daerah) karena kutipan tersebut tidak diikuti dengan pemberian kwitansi yang telah disesuaikan dengan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) .

Ketiga, berkaca pada anggaran DPK Tahun 2021, terdapat ketidak proporsionalitas anggaran DPK yang lebih banyak menyasar pada pengelolaan Gedung dan kantor Dinas Pertamanan dan Kebersihan. Berdasarakan data Perwal 53 Tahun 2020 Lampiran II, setengah dari 559 miliar anggaran kebersihan di Kota Medan, habis untuk listrik air dan komunikasi, Hanya 15 persen dari total anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaan sampah, Itupun terbagi dalam beberapa item pengerjaan. Seperti promosi dan kampanye kebersihan lingkungan, pemeliharan sapras persampahan dan penyediaan sapras persampahan.

Keempat, belum maksimalnya kerja dari petugas kebersihan seperti pasukan melati, bestari dan personil kebersihan kecamatan, catatan kami menunjukan bahwa proses rekrutmen, sistem kerja dan petugas kebersihan masih belum terkelola dengan baik. Sehingga masih banyak sampah yang menumpuk di badan jalan di kota medan

Kelima, minimnya sarana dan prasarana truck pengangkut sampah di mana pada saat ini, truck sampah hanya beroperasi untuk mengangkut sampah pada pukul 06.00 WIB, tetapi tidak terjadi di semua wilayah. Di beberapa Kecamatan, seperti Medan Denai, dan Medan Barat kami catat pengangkutan dilakukan pada pukul 08.00 WIB atau pukul 09.00 WIB.